Home

Mengapa pijat itu sangat bermanfaat dan penting?

Mengapa pijat tidak berkembang menjadi pilihan yang layak diambil dalam upaya menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit?

Beberapa pengalaman berharga yang tidak terlupakan

Manfaat pijat bagi dunia olahraga

Foto Terapi

 

 


Mengapa Pijat Tidak Berkembang Menjadi Pilihan yang Layak Diambil dalam Upaya Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan Penyakit? 

Di Indonesia profesi yang saya tekuni ini bukanlah termasuk profesi prestisius, malahan dipandang sebagai profesi marjinal yang hanya pantas dibayar murah-meriah seperti di WARTEG (maaf ya, tidak ada maksud merendahkan WARTEG yang merupakan salah satu motor penggerak ekonomi sektor riil yang mampu menghidupi jutaan orang serta bermanfaat bagi berpuluh-puluh juta orang lagi yang menjadi pelanggannya. Hidup WARTEG!). Sungguh, saya merasakannya sebagai bentuk penghinaan yang sangat keji! Hai bodoh, jangan kau hina saya! Saya bisa buktikan kualitas saya di bidang kesehatan tidak lebih buruk dibandingkan dengan apa yang bisa diberikan dunia medis! Dalam bidang kesehatan saya tidak lebih bodoh dari banyak profesor doktor di luar sana! Secara psikologis kebanyakan orang tetap merasa lebih mudah untuk membayar harga yang teramat mahal untuk upaya medis (dengan menempuh cara apa saja untuk menyediakan dananya, termasuk dengan menjual aset dan berhutang, mudah-mudahan tidak sampai merampok atau menipu), walaupun upaya medis sudah terbukti sering mendatangkan kekecewaan bagi mereka. 

Tidak heran, tidak banyak orang yang cukup berpendidikan yang mau menekuni dan sekaligus mengembangkan profesi pijat ini. Pada umumnya pelaku profesi ini adalah orang-orang berpendidikan rendah, atau orang-orang yang terpaksa menjalaninya karena berbagai faktor latar belakang yang tidak memungkinnya untuk memilih dan melakukan profesi lain. Sangat sulit menemukan orang-orang yang benar-benar mencintai profesi ini dan berniat sungguh-sungguh menjadi profesional. Sangat sulit untuk mencari orang-orang dari pelaku profesi ini yang mau terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya dan tidak lelah untuk terus menggali manfaatnya melalui setiap pengalamannya. Kebanyakan tidak peduli. Tidak heran, mereka bekerja asal-asalan. Mereka tidak peduli apakah layanannya memuaskan pelanggan atau tidak. Tidak peduli apakah pijatannya bermanfaat atau tidak. Bisa dibayangkan, apa yang bisa diharapkan dari orang-orang bodoh semacam ini. 

Jadi alasan pertama mengapa sampai saat ini pijat tidak berkembang hingga menjadi kebutuhan bagi setiap orang untuk mempertahankan kesehatannya dan menyembuhkan berbagai problem kesehatan atau penyakit adalah terletak dari pelaku profesi ini, yang sedemikian bodohnya sehingga tidak mampu membuktikan bahwa pijat itu memang benar-benar bermanfaat.

Sebagai contoh dari kebodohan pelaku profesi ini, ada anggapan bahwa rasa sakit yang sangat luar biasa selama dan setelah dipijat itu sudah lumrah dan biasa. Pernah saya menegur seorang pemijat karena pijatannya sangat menyiksa dan sama sekali tidak dapat dinikmati, dan jawabannya sangat mengagetkan "kalau tidak mau sakit ya jangan dipijat". Sangat tidak mengherankan apabila ada banyak orang yang cuma mau badannya segar kembali  karena kelelahan malah menjadi babak belur setelah dipijat. Atau orang yang terpincang-pincang karena terkilir malah tidak mampu berjalan setelah dipijat. Mengapa mereka tidak berpikir bahwa pemijatan dapat dilakukan tanpa harus menyiksa pasien, dan sebaliknya harus dapat membuat orang yang dipijat dapat merasakan pijat itu sangat nikmat dan menyenangkan?

Berdasarkan pengetahuan tentang pijat refleksi (reflexology) dikatakan bahwa semua penyakit manusia itu dapat didiagnosa dari titik-titik tertentu di telapak kaki, dan secara bersamaan dapat disembuhkan dengan memijat titik-titik tertentu di telapak kaki tersebut. Sungguh, hal ini sangat bodoh, menyesatkan, dan sangat tidak rasional. Tidak ada bukti konkrit dan logis yang mendukung kebenarannya. Bagaimana mungkin mau mengembangkan pijat ke arah yang lebih baik berdasarkan teori bodoh dan tidak masuk akal semacam ini?

Banyak buku tentang pijat yang mengandung isi yang menyesatkan. Salah satunya yang ditulis oleh praktisi kesehatan alternatif yang sangat terkenal namanya di Indonesia (beliau ini juga menerapkan pijat dalam praktek penyembuhannya). Dikutip dari buku ini pernyataan bahwa pemijatan tidak boleh dilakukan pada orang yang sedang mengalami demam, tanpa ada penjelasan mengapa begitu. Padahal dari pengalaman saya, pemijatan pada pasien yang mengalami demam sangat besar manfaatnya untuk segera memulihkan kondisi pasien. Tidak pernah saya mengalami pasien demam kondisinya memburuk setelah dipijat.

Alasan kedua yang cukup penting adalah dunia medis dengan berbagai cara telah sangat berhasil untuk mendoktrin pikiran semua orang sejak dini bahwa menyangkut semua masalah kesehatan hanya dunia medis yang paling benar. Tidak heran, orang pada umumnya sudah tidak mampu lagi berpikir kritis dan melihat realitas secara jernih, bahwa selain sering tidak efektif untuk memberi solusi terhadap masalah kesehatan, tindakan medis justru sering sangat membahayakan kesehatan dan bahkan mempercepat kematian. Begitu kuatnya pengaruh indoktrinasi ini, kebanyakan orang sudah tidak mampu lagi melihat bahwa banyak hal  di luar dunia medis yang begitu bermanfaat, bahkan walau mereka telah pernah merasakan sendiri manfaatnya.

Kalangan medis sering memberi pendapat yang sangat keliru dan menyesatkan tentang pijat dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari yang berdampak orang menjauhi pijat dan bahkan menjadi anti pijat. Tidakkah mereka sadar bahwa di mata sebagian besar orang, dokter itu cuma setengah tingkat di bawah Tuhan, sehingga apa pun yang dikatakan dan dikehendaki dokter akan mereka ikuti dengan penuh kepasrahan dan rasa percaya? Anda mungkin menilai bahwa saya terlalu berlebihan, tapi bukankah ini fakta? Dan para dokter sangat tahu tentang hal ini dan bahkan sangat menikmati realitas ini dan benar-benar memanfaatkannya tanpa rasa malu.

Dan bahkan ketika mereka berkata "Saya sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain" orang-orang itu tetap hormat dan berterima kasih kepada mereka dengan penuh ketulusan sambil membungkukkan badan, bahkan sebagian sampai mencium tangan segala, dan tidak lupa melunasi semua tagihannya (pada kenyataannya pasien membayar lunas di muka, mungkin karena takut susah menagihnya kalau pasien tanpa permisi keburu meninggal dunia setelah diambil tindakan medis), dan nama mereka dengan sederet gelar yang kalau dibaca lengkap bisa bikin pusing itu tetap mentereng tercantum dalam iklan duka cita satu halaman penuh di koran terkemuka yang dipasang oleh keluarga orang super kaya. Selalu dikatakan dalam iklan duka cita itu "telah meninggal dunia dengan tenang dan damai", mereka seakan-akan lupa bahwa sebagian besar dari mereka yang telah meninggal dunia itu bergelut dengan penderitaan dan rasa sakit yang luar biasa hebatnya (kata kasarnya telah tersiksa, atau lebih kasar lagi telah disiksa) dalam rentang waktu sekian lama sebelum meninggal, dan kalau kita mau jujur, selama rentang waktu yang panjang itu mereka tidak pernah merasakan keadaan sembuh dalam arti sebenarnya. (klik di sini)

Saya mengutip salah satu pendapat dokter spesialis olahraga yang menyatakan pemijatan sangat tidak dianjurkan dilakukan segera setelah cedera terjadi, juga tanpa penjelasan mengapa, dan menyarankan metode pemberian es pada lokasi cedera, padahal metode pemberian es ini bisa diperdebatkan manfaatnya. Hai orang bodoh di luar sana, sudah sering terbukti dokter gagal menangani cedera olahraga walau cuma yang ringan-ringan saja! Yang saya ketahui dari beberapa pasien saya, mereka sering kali malah langsung menganjurkan operasi (dengan biaya fantastis dan resiko kegagalan yang tidak terbayangkan). Sesuai pengalaman saya, cedera akibat olahraga harus segera dipijat (dengan cara yang benar, dengan catatan pasien diduga tidak sedang mengalami kerusakan pada struktur tulang), dan cedera olahraga dengan mudah dipulihkan tanpa membuang waktu yang terlalu lama dalam proses penyembuhannya. Saya sempat berpikir, untuk urusan cedera olahraga yang sangat sederhana saja dokter sering tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana mungkin mereka cukup percaya diri untuk menangani kanker, kegagalan organ penting seperti ginjal dan hati, dan sebagainya? Aneh bin ajaib memang dunia ini.

Sering terdengar pendapat yang mengatakan bahwa pasien rematik atau nyeri sendi tidak boleh dipijat. Padahal dari pengalaman saya, rematik atau nyeri sendi sangat mudah disembuhkan dengan pijat (dengan cara yang benar dan pasien tidak sedang mengalami gangguan pada struktur tulang).

Dalam beberapa kesempatan ketika saya memberi terapi di rumah sakit, tidak dapat disembunyikan ada rasa tidak senang dan kemarahan pada wajah dokter dan paramedis. Cuma ada perbedaan mencolok apabila saya memberi terapi pijat di rumah sakit, yaitu bila pasiennya orang berpengaruh atau super kaya yang menempati ruang VVIP, dokter dan paramedis paling berkomentar "Aduuuuh enaknya dipijat", sedangkan kalau pasiennya orang biasa yang menempati ruang klas III mereka bisa kasar sambil berkata "Siapa yang suruh pijat?" Padahal pijat terbukti sangat efektif membantu memulihkan kesehatan pasien, dan dalam banyak kasus, menurut pendapat saya, merupakan keharusan karena banyak hal yang terjadi pada diri pasien tidak cukup efektif dibantu dengan upaya medis.  

Sebagai contoh konkrit, pada umumnya sangat sukar bagi pasien di rumah sakit untuk mengalami tidur yang berkualitas (baik durasi maupun tingkat kelelapannya). Padahal tidur yang berkualitas sangat penting bagi tubuh manusia untuk memulihkan kesehatannya secara cepat. Dan terapi pijat tidak bisa dibantah dengan mudah mengatasi masalah gangguan tidur ini. Dan juga masalah lain seperti buang air besar, tidak jarang dialami pasien dan upaya medis seringkali gagal membantu pasien untuk sekedar bisa buang air besar dalam jumlah memadai, padahal