Hidup ini merupakan ajang untuk memilih, termasuk untuk urusan kesehatan. Tetapi alangkah bodohnya apabila kita memilih cara yang salah dalam urusan kesehatan, karena semua orang pasti setuju bahwa kesehatan yang prima itu adalah sumber yang utama dalam menjalani hidup bahagia dan bermakna.

 

Home

Mengapa pijat itu sangat bermanfaat dan penting?

Mengapa pijat tidak berkembang menjadi pilihan yang layak diambil dalam upaya menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit?

Beberapa pengalaman berharga yang tidak terlupakan

Manfaat pijat bagi dunia olahraga

Foto Terapi

 

 


Pengalaman Berharga yang Tidak Terlupakan

Saya mulai berpraktek sebagai tukang pijat secara mandiri pada tanggal 15 Mei 2002. Sebelumnya selama kurang lebih 1 tahun saya bekerja dengan orang lain yang membuka usaha menyediakan layanan pijat panggilan untuk keluarga ke rumah-rumah warga di Depok dan Bintaro.

Pada mulanya saya memang betul-betul baru di bidang ini, dan mempunyai keahlian ala kadarnya karena sejak kecil saya sering diminta untuk memijat orang tua sendiri.  Tidak ada tempat rujukan untuk belajar kepada siapa, karena menurut saya semua orang yang terjun di bidang ini rata-rata orang bodoh (dan kenyataannya memang demikian). Tapi sejak awal, walaupun saya menyadari keahlian saya sangat terbatas karena pengetahuan dan pengalaman yang sangat minim, saya secara kritis telah menentukan batasan-batasan yang harus saya pegang, antara lain pijatan saya tidak boleh menyebabkan orang yang saya pijat merasa sakit atau tersiksa. Secara tidak langsung saya belajar 'membaca' kondisi tubuh pasien dan melatih kepekaan insting, suatu hal penting yang harus dimiliki seorang master di bidang ini, karena pijatan yang baik harus benar-benar dirasakan sebagai sesuatu yang mengenakkan dan menimbulkan efek terapi, sementara kondisi badan tiap orang tidak ada yang persis sama.

Sejak semula saya tidak percaya dengan yang namanya pijat refleksi (reflexology), karena menurut saya ilmu ini tidak logis dan mengada-ada. Sebagai contoh mudah, kalau Anda sakit kepala menurut ilmu pijat refleksi ini cukuplah Anda memijat daerah ujung jempol kaki maka sakit kepala akan hilang. Padahal pada kenyataannya jauh panggang dari api. Yang saya lakukan pada pasien sakit kepala adalah memijat seluruh daerah kepala termasuk wajah, leher, bahu dan punggung yang berefek mengelastiskan kembali pembuluh darah di daerah itu yang menjamin kelancaran aliran darah ke otak, dan sakit kepala pasti hilang. Jadi dalam bekerja saya mengutamakan logika dan daya pikir kritis.

Bagi saya kalau mau maju, termasuk dalam profesi apapun, harus belajar tanpa henti. Setiap melakukan terapi merupakan kesempatan untuk belajar, mencermati dan menganalisa. Saya juga cukup tertarik membaca artikel-artikel di bidang kesehatan dalam jurnal atau majalah kedokteran (karena saya bergerak di bidang yang sama, hanya berbeda konsep dasar saja), mencernanya dengan sikap kritis tanpa dengan mudah menerimanya sebagai kebenaran yang harus dipatuhi secara mutlak.

Saya juga sering bereksperimen (tanpa dibayar, dan sering karena faktor kebetulan mengalaminya) dengan senang hati memijat pasien dengan berbagai keluhan penyakit, karena bagi saya ini kesempatan untuk meningkatkan kemampuan. Setiap kesempatan adalah penting untuk pembelajaran, bahan analisa untuk dicermati dan dikritisi. Oleh karena itu saya cukup kaya dengan pengalaman dari sekedar menangani orang terkilir, alergi makanan tertentu, keracunan makanan dan obat, wanita yang sakit pada saat kehamilan, membantu menyembuhkan seorang sopir angkot yang terkena serangan stroke ketika sedang membawa mobil di perempatan jalan, melepas ketergantungan seorang anak berumur kurang dari satu tahun dari penggunaan obat karena selalu mengalami flu yang putus nyambung, sampai menangani penderita HIV-AIDS (klik di sini) yang sekaligus menderita kanker getah bening (lymphoma).

Pada awalnya saya tidak berani mengklaim diri sebagai ahli terapi. Jadi pada brosur pertama yang saya buat untuk dibagikan di perumahan Anggota DPR-RI Kalibata, Jakarta Selatan, pada tanggal 15 Mei 2002  itu saya hanya berani mencantumkan profesi saya sebagai 'tukang pijat biasa' yang hanya menawarkan kemampuan untuk mengatasi pegal-pegal, keseleo, atau sekedar masuk angin.

Pelanggan pertama saya pada tanggal 15 Mei 2002 itu adalah Bapak K.H. Imang Mansyur, seorang Anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa, Ketua PWNU Jawa Barat, sekaligus pemilik pesantren terkenal di Bandung. Sungguh seorang Bapak yang sangat santun, ramah dan simpatik. Bapak ini minta dipijat untuk tujuan relaksasi saja. Secara kebetulan Bapak ini menderita penyakit jantung koroner dan sudah dijadwalkan untuk melakukan operasi bypass di Rumah Sakit Harapan Kita sekitar satu bulan lagi. Karena merasa cocok dengan pijatan saya, saya dipanggil lagi keesokan harinya dan selanjutnya hampir tiap hari Bapak ini minta dipijat kalau ada kesempatan (Bapak ini masih aktif ke kantor dan melakukan kunjungan ke daerah). Barangkali pijatan saya dirasakan cukup membantu memberikan rasa nyaman bagi penderita jantung koroner dan meringankan rasa tegang  menjelang operasi bypass ini. Sekaligus ini merupakan bukti yang membantah anggapan bahwa penderita penyakit jantung koroner tidak boleh dipijat. Ketika keluar dari rumah sakit setelah operasi bypass saya tetap dipanggil, dan pijatan saya cukup menolong mengatasi rasa nyeri pasca operasi. Saya tetap memberikan terapi secara rutin sampai Bapak ini selesai menjalankan tugas sebagai anggota dewan dan kembali ke Bandung sekitar Oktober 2004, dan sejak itu saya tidak tahu lagi kabar beliau. Terakhir ini setelah saya browsing di internet saya mengetahui Bapak yang ramah ini sudah meninggal dunia (tidak dijelaskan kapan).

Orang penting yang menjadi pelanggan saya sampai saat ini antara lain adalah Bapak Mayjen TNI (Purn) DR. Syamsul Ma'arif, M.Si. (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana), yang merupakan teman satu rating Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ketika menempuh pendidikan di AKABRI. Mulai menjadi pelanggan sekitar bulan Desember 2002 ketika masih menjadi anggota dewan dari Fraksi TNI-POLRI (sekarang fraksi ini sudah tidak ada lagi). Saya menjadi 'sibuk' dengan Bapak ini ketika sedang menjalani studi S-3 (doctoral candidate) di Universitas Indonesia, dan bertambah sibuk karena sering dipanggil memberikan pijatan  menjelang sidang terbuka ujian disertasi (dissertation defense). Kebetulan ketika itu Bapak juga masih sibuk dengan tugas sebagai Asisten Teritorial Kasum TNI. Pijatan saya ternyata cukup membantu menyehatkan orang yang sedang dalam kondisi sibuk berat dengan kegiatan dan tugas penting.

Orang penting lain lagi yang menjadi pelanggan saya sampai saat ini adalah Drs. H. Anwar Adnan Saleh, sekarang Gubernur Provinsi Sulawesi Barat. Menjadi pelanggan saya sejak Agustus 2002 ketika masih menjadi anggota DPR. Penghobi berat olahraga golf, yang tidak lupa untuk minta dipijat setelah bermain golf. 

Dan masih ada sederet nama lain.

Yang menjadi keprihatinan saya, saya tidak cukup yakin Bapak-Bapak terhormat di atas  menyadari bahwa pijatan saya mempunyai efek terapi (pencegahan dan penyembuhan berbagai jenis penyakit). Saya sangat meyakini, beliau-beliau ini hanya tahu pijatan saya membuat badan segar dan bugar, terkilir atau keseleo segera sembuh, tidur jadi enak, dan kualitas pijatan saya tidak tertandingi, tidak lebih dari itu.  Beliau-beliau ini saya yakini belum mengerti bahwa pijatlah merupakan cara paling efektif untuk terhindar dari serangan stroke, mencegah komplikasi diabetes, upaya maksimal untuk menghindar dari resiko menjalani cuci darah, merawat organ penting pencernaan, pankreas, liver (hati), jantung, ginjal, dan sebagainya. 

Upaya untuk menjadikan pijat menjadi bagian integral dan mutlak dari gaya hidup sehat masih sangat jauh dari harapan.